KEHAMILAN POSTTERM ADALAH PDF

Metode Stein Persalinan anjuran mulai pagi hari. Pukul 6. Pukul 7. Pukul 8. Pukul 9.

Author:Jusar Shazshura
Country:Indonesia
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):8 February 2014
Pages:122
PDF File Size:4.72 Mb
ePub File Size:6.74 Mb
ISBN:426-9-72052-142-4
Downloads:45255
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Akinoll



Patogenesis Kehamilan Postterm Penyebab pasti dari kehamilan postterm sampai saat ini masih belum diketahui pasti. Beberapa teori yang diajukan pada umumnya menyatakan bahwa terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain : Teori progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekular pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin.

Berdasarkan teori ini, diduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron melewati waktu yang semestinya. Teori Oksitosin Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis Ibu hamil pada kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kehamilan postterm.

Kortisoljanin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.

Teori saraf uterus Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusar pendek, dan bagian bawah masih tinggi ke semuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.

Teori heriditer Pengaruh heriditer terhadap insidensi kehamilan postterm telah dibuktikan pada beberapa penelitian sebelumnya. Kitska et al menyatakan dalam hasil penelitiannya, bahwa seorang ibu yang pernah mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya.

Hasil penelitian ini memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga dipengaruhi faktor genetik. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk mengetahui usia kehamilan dalam menegakkan diagnosis kehamilan postterm. Karena semakin lama janin atau neonatus ini berada di dalam uterus, maka kemungkinan perubahan morbiditas dan mortilitas semakin besar.

Riwayat haid Sangat penting untuk memastikan bahwa kehamilan sebenarnya postterm atau tidak. Idealnya, usia kehamilan yang akurat ditentukan di awal kehamilan. Diagnosis kehamilan postterm tidak sulit untuk ditegakkan bilamana HPHT diketahui secara pasti. Ditentukan beberapa kriteria : Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya Siklus 28 hari dan teratur Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele.

Bila pasien melakukan tes pemeriksaan tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu. Gerak janin. Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan Ibu pada pada umur kehamilan minggu. Pada Primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada Multigravida sekitar 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditamba 22 minggu pada Primigravida atau ditambah 24 minggu pada multiparitas.

Denyut jantung janin DJJ. Dengan stetoskop Leanec DJJ dapat didengar mulai umur kehamilan minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada usia kehamilan minggu. Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sbb : Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan doppler Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Leanec Tinggi Fundus Uteri Dalam trimester pertama pemerikasaan tinggi fundus uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan.

Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. Bila telah dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama, hampir dapat dipastikan usia kehamilan.

Pada umur kehamilan sekitar minggu, ukuran diameter biparietal dan panjang femur memberikan ketepatan sekitar 7 hari dari taksiran persalinan.

Selain CRL, diameter biparietal dan panjang femur, beberapa parameter dalam pemeriksaan USG juga dapat dipakai seperti lingkar perut, lingkar kepala, dan beberapa rumus yang merupakan perhitungan dari beberapa hasil pemeriksaan parameter tersebut di atas. Sebaliknya, pemeriksaan sesaat setelag trimester III dapat dipakai untuk menentukan berat janin, keadaan air ketuban, ataupun keadaan plasenta yang sering berkaitan dengan kehamilan postterm, tetapi sukar untuk memastikan usia kehamilan.

Pemeriksaan Radiologi Umur kehamilan ditentukan dengan melihat pusat penulangan. Gambaran epifisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu, dan epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. Cara ini sekarang jarang dipakai selain karena dalam pengenalan pusat penulangan seringkali sulit, juga pengaruh radiologik kurang baik terhadap janin.

Aktivitas tromboplastin cairan amnion ATCA. Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepar waktuoembekuan darah, aktivitas ini meningkat dengan bertambahya umur kehamilan pada umur kehamilan minggu ATCA berkisar antara detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapat ATCA antara detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu.

Sitologi cairan amnion. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Sitologi Vagina. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi. Permasalahan Kehamilan Postterm Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada kehamilan atterm, terutama terhadap kematian perinatal antepartum, intrapartum, dan postpartum berkaitan dengan aspirasi mekonium dan asfiksia. Pengaruh kehamilan postterm antara lain sebagai berikut.

Perubahan pada Plasenta Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi pada kehamilan postterm dan meningkatnya risiko pada janin. Penurunan fungsi plasenta dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen.

Perubahan yang terjadi pada plasenta sebagai berikut: Penimbunan kalsium. Pada kehamilan postterm terjadi peningkatan penimbunan kalsium pada plasenta. Hal ini dapat menyebabkan gawat janin dan bahkan kematian janin intrauterin yang dapat meningkat sampai kali lipat. Timbunan kalsium plasenta meningkat sesuai dengan progesivitas degenerasi plasenta.

Namun, beberapa vili mungkin mengalami degenerasi tanpa mengalami klasifikasi. Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang. Keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transpor plasenta. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema, timbunan fibrinoid, fibrosis, trombosis intervili, dan infark vili.

Perubahan Biokimia. Adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA di bawah normal, sedangkan konsentrasi RNA meningkat, transpor kalsium tidak terganggu, aliran natrium, kalium dan glukosa menurun. Pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi seperti asam amino, lemak, dan gama globulin biasanya mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin. Pengaruh pada janin Pengaruh kehamikan postterm terhadap janin sampai saat ini masih diperdebatkan.

Beberapa ahli menyatakan bahwa kehamilan postterm menambah bahaya pada janin, sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya kehamilan postterm terhadap janin terlalu dilebihkan.

Kiranya kebenaran terletak di antara keduanya. Fungsi Plasenta mencapai puncak pada kehamilan 38 minggu. Dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi Plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin resiko 3 kali. Akibat dari proses penuaan plasenta, pemasokan makanan dan oksigen akan menurun di samping adanya spasme arteri spiralis.

Beberapa pengaruh kehamilan postterm terhadap janin antara lain sebagai berikut : Berat Janin. Bila terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta, maka terjadi penurunan berat janin. Dari penelitian vorherr tampak bahwa sesudah umur kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya enurunan sesudah 42 minggu. Namun, seringkali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan.

Resiko persalinan bayi dengan berat lebih dari gram pada kehamilan postterm tingkat dua sampai 4 kali lebih besar dari kehamilan term. Sindroma postmaturitas. Dapat dikenali pada neonatus dengan ditemukannya beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti kertas, atau hilangnya lemak subkutan, kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks kasiosa dan lanugo, maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genital luar, warna coklat kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat, muka tampak menderita dan rambut kepala banyak atau tebal.

Tidak seluruh nenonatus kehamilan postterm menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi plasenta. Tidak ada pewarnaan mekonium. Keadaan umum menunjukkan adanya kegagalan plasenta untuk menunjang pertumbuhan yang normal sehingga bayi terlihat kurang gizi, wajah tua dan selalu waspada.

Gawat janin atau kematian perinatal. Menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu atau lebih, sebagian besar terjadi intrapartum. Umumnya disebabkan oleh : makrosomia yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan, fraktur klavikula, palsi Erb-Duchene, sampai kematian bayi. Insufisiensi plasenta yang berakibat : Oligohidramnion : Terjadi kompresi tali pusat, keluar mekonium yang kental, perubahan abnormal jantung janin.

Hipoksia janin Keluarnya mekonium yang berakibat dapat terjadi aspirasi mekonium pada janin. Cacat bawaan pada janin terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus. Komplikasi yang dapat dialami oleh bayi baru lahir ialah suhunya tidak stabil, hipoglikemi, polisitemi dan kelainan neurologik. Aspek emosi : Ibu dan keluarga menjadi cemas bilamana kehamilan terus berlangsung melewati taksiran persalinan.

Aspek Mediko Legal Dapat terjadi sengketa atau masalah dalam kedudukannya sebagai seorang Ayah sehubungan dengan umur kehamilan. Pengelolaan kehamilan postterm Kehamilan postterm merupakan masalah yang banyak dijumpai dan sampai saat ini pengelolaannya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat.

Perlu ditetapkan terlebih dahulu bahwa pada setiap kehamilan postterm dengan komplikasi spesifik seperti diabetes melitus, kelainan faktor rhesus, isoimunisasi, preeklampsia-eklampsia, dan hipertensi kronis yang meningkatkan resiko terhadap janin, kehamilan jangan dibiarkan berlangsung lewat bulan.

Demikian pula pada kehamilan dengan faktor resiko lain seperti primitua, infertilitas, riwayat obstetrik yang jelek. Tidak ada ketentuan atau aturan yang pasti dan perlu dipertimbangkan masing-masing kasus dalam pengelolaan kehamilan postterm.

Beberapa masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan kehamilan postterm antara lain sebagai berikut : Pada beberapa penderita, umur di kehamilan tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat, sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana yang diperkirakan. Suka menentukan apakah janin akan mati, berlangsung terus, atau mengalami morbiditas serius bila tetap dalam rahim. Sebagian besar janin tetap dalam keadaan baik dan tumbuh terus sesuai dengan tambahnya umur kehamilan dan tumbuh semakin besar.

Persalinan yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi postmatur. Pemecahan selaput ketuban harus dengan pertimbangan matang. Pada oligohidramnion pemecahan selaput ketuban akan meningkatkan resiko kompresi tali pusat tetapi sebaliknya dengan pemecahan selaput ketuban akan dapat diketahui adanya mekonium dalam cairan amnion.

Sampai saat ini masih menjadi terdapat perbedaan pendapat dalam pengelolaan kehamilan postterm. Bila dilakukan pengelolaan aktif, apakah kehamilan sebaiknya diakhiri pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu. Pengelolaan aktif : dengan melakukan persalinan anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil risiko terhadap janin. Sebelum mengambil langkah, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kehamila postterm adalah sebagai berikut : Menentukan apakah kehamilan memang telah berlangsung lewat bulan postterm atau bukan.

Dengan demikian, penatalaksanaan ditujukan kepada dua versi dari postterm ini. Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin. Pemeriksaan Kardiotokografi seperti nonstress test NST dan cintraction stress test dapat mengetahui kesejahteraan janin sebagai reaksi terhadap gerak janin atau kontraksi uterus.

HMRC GOV UK FORM 11CTC PDF

My Archive

Hamil dikatakan lewat waktu jika sudah mencapai 42 minggu atau hari. Kehamilan postterm, juga disebut kehamilan lewat waktu, adalah kehamilan yang telah melampaui 42 minggu dari hari pertama periode menstruasi terakhir. Jumlah kejadiannya sekitar 10 persen dari kehamilan. Sangat penting untuk memastikan bahwa kehamilan sebenarnya postterm atau tidak.

BWV 1052 PDF

KEHAMILAN POSTTERM ADALAH PDF

Kehamilan Posterm A. Pendahuluan Kehamilan postterm atau lewat waktu merupakan salah satu kehamilan risiko tinggi. Kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan seperti ini adalah meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas perinatal. Hal ini dihubungkan dengan menurunnya fungsi plasenta yang dapat mengakibatkan pemasokan makanan dan oksigen ke janin menurun akibat berkurangnya sirkulasi ke janin. Selain itu, penentuan saat ovulasi yang pasti juga tidak mudah. Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan seperti variasi siklus haid, kesalahan perhitungan oleh ibu, dan sebagainya. Definisi Menurut WHO dan American College of Obstetricians ad Gynecologist , postterm adalah kehamilan 42 minggu penuh hari atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir HPHT , dengan asumsi ovulasi terjadi 2 minggu setelah haid terakhir.

GEORGE CREEL HOW WE ADVERTISED AMERICA PDF

PERSALINAN POSTTERM

Pengertian persalinan postterm Persalinan postterm adalah persalinan melampaui umur hamil 42 minggu dan pada janin terdapat tanda postmaturitas Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan adalah hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan postdate digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42 minggu hari atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Etiologi Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya faktor penyebab kehamilan postterm adalah : a. Pengaruh Progesteron Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin , sehingga terjadinya kehamilan dan persalinan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron. Teori Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan postterm memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalinan dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebabnya. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin.

ALELUIA CHEPPONIS PDF

Negal Gender binary Gender identity Men who have sex with posterm Sexual identity Sexual orientation Women who have sex with women. The increased levels of progesterone and estrogen during in pregnancy can develop gingivitis ; the gums become edematous, red in colour, and tend to bleed. Lesions can be treated by local debridement or deep incision depending on their size, and by following adequate oral hygiene measures. Sex during pregnancy is a low-risk behavior except when the healthcare provider advises that sexual intercourse be avoided for particular medical reasons. The uterus, the muscular organ that holds the developing fetus, can expand up to 20 times its normal size during pregnancy. Essential anatomy and physiology in maternity care Second ed. Archived from the original on 29 October Archived from the original on 7 August Regular aerobic exercise during pregnancy appears to improve or maintain physical fitness.

Related Articles