ANAS SUDIJONO PENGANTAR STATISTIK PENDIDIKAN PDF

Dengan demikian istilah statistic dengan pengertian sebagai data kuantitatif data statistic data angka yang memberikan gambaran mengenai keadaan,peristiwa atau keadaan gejala tertentu. Analisis data. Ciri khas statistic sebagai ilmu pengetahuan memiliki tiga cirri khusus a. Fungsi yang dimiliki statistic dalam dunia pendidikan terutama bagi para pendidik pengajar,guru,dan dosen dan lain-lain adah sebgai alat bantu yang sangat pentinga yaitu:alat bantu untuk mengolah,menganalisis,dan menyimpulkan hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penilaian.

Author:Mutaxe JoJogul
Country:Saint Kitts and Nevis
Language:English (Spanish)
Genre:Literature
Published (Last):13 April 2013
Pages:305
PDF File Size:9.55 Mb
ePub File Size:16.67 Mb
ISBN:816-1-38302-722-3
Downloads:76134
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:JoJolmaran



Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Istilah yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa antara lain adalah: evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Evaluasi evaluation merupakan proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut Wandt and Brown bahwa evaluation refers to the act or process to determining the value of something. Evaluasi menunjuk pada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

Pengukuran measurement dapat diart ikan sebagai proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. Menurut Linn dan Gronlund , bahwa pengukuran adalah proses pemerolehan sebuah penggambaran dengan angka mengenai sejauh mana seorang individu memproses sebuah karakteristik tertentu. Ebel 14 mengungkapkan bahwa measurement is the process of assigning numbers to individuals or their characteristics according to special rules.

Pengukuran merupakan proses menentukan jumlah inividul atau karakteristik menurut aturan tertentu. Menurut Sudijono bahwa pengukuran yang bersifat kuantitatif dapt dibedakan menjadi tiga macam, yaitu 1 Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu: misalnya; pengukuran yang dilakukan oleh penjahit pakaian mengenai panjang lengan, panjang kaki, dan sebagainya, 2 Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu, misalnya: pengukuran untuk menguji daya tahan per baja terhadap tekanan berat, pengukuran untuk menguji daya tahan nyala lampu pijar, dan sebagainya.

Penilaian assessment biasanya mengacu pada pengumpulan informasi dan sintesis oleh guru mengenai siswanya dan kelasnya. Arends, Definisi lain diungkapkan oleh Gronlund 5 bahwa penilaian merupakan proses sistematik pengumpulan, penganalisisan, dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Penilaian juga dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran. Inti penilaian adalah proses memberikan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria.

Penilaian ini merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan karena mencerminkan perkembangan atau kemajuan pendidikan mutu pendidikan dari satu waktu ke waktu lain.

Di samping itu berdasarkan penilaian, tingkat pencapaian prestasi pendidikan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya dalam satu wilayah atau antara satu sekolah dengan sekolah lainnya yang berbeda wilayahnya, dapat diperbandingkan. Dalam membahas masalah penilaian di bidang pendidikan, ada tiga istilah yang sering dipakai secara rancu yaitu pengukuran, penilaian, dan pengambilan keputusan.

Ketiga istilah ini memiliki arti yang sangat berbeda karena tingkat penggunaan yang berbeda. Ketiga pengetian tersebut adalah sebagai berikut: o Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi atau data secara kuantitatif. Dari pengertian di atas, jelas terlihat tingkatan yang berbeda dari ketiga hal tersebut. Penilaian memerlukan data yang baik mutunya dan salah satu sumbernya adalah hasil pengukuran. Begitu pula halnya dengan pengambilan keputusan.

Keputusan yang baik memerlukan hasil penilaian yang baik terhadap situasi, tetapi hasil penilaian tidak selalu menjadi apalagi sebagai satu-satunya landasan bagi pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil biasanya merupakan fungsi dari perhitungan tentang hasil dan resiko dari tindaka atau keputusan tersebut. Menurut pengertian di atas, penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah tindakan yang telah dikerjakan sebelumnya cukup baik atau tidak.

Jadi pada dasarnya yang dinilai itu adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian tujuan dari kegiatan tersebut. Aspek yang dinilai ada dua yaitu tingkat keberhasilan dan tingkat efisiensi program. Penilaian terhadap tingkat efisiensi pelaksanaan program biasanya amat diperlukan pada program yang sering diulang-ulang pelaksanaannya.

Contohnya bagi guru adalah program pengajaran materi untuk di kelas. Kegunaan utama dari penilaian adalah untuk pengambilan keputusan dan untuk pertanggung jawaban terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

Pengambilan keputusan berdasarkan hasil penilaian diperlukan untuk pengendalian kegiatan jika program masih berlangsung atau untuk penyempurnaan siklus berikutnya pada suatu sistem program yang sifatnya berulang. Khususnya dalam dunia pendidikan, program yang ada dapat berbeda-beda tingkatannya, mulai dari program tingkat departemen, wilayah, sekolah,dan kelas.

Begitu pula halnya dengan program pendidikan yang tidak diselenggarakan oleh pemerintah, misalnya oleh yayasan atau lembaga sosial lainnya. Selain itu pihak pemakai jasa pendidikan pun memiliki program. Contohnya orang tua memiliki program menyekolahkan anaknya. Jadi semua pihak yang terlibat, baik pemerintah, lembaga masyarakat, orang tua, maupun peserta didik memerlukan informasi tentang tingkat keberhasilan serta tingkat efisiensi di dalam mencapai tujuan pendidikan mereka masing-masing.

Penilaian terhadap suatu program dapat dilakukan oleh pihak yang merencanakan dan melaksanakan program, namun dapat pula diserahkan kepada pihak lain yang dianggap ahli dan tidak terlibat di dalam pelaksanaan. Hal ini bergantung pada waktu dan tujuan dilakukan penilaian. Jika penilaian dilakukan terhadap setiap satuan kecil dari suatu program yang lebih besar yang masih berjalan, maka seringkali penilaian itu dilakukan oleh pihak yang melaksanakan program. Sebaliknya, jika penilaian dilakukan setelah keseluruhan dari suatu program selesai dilaksanakan biasanya penilaian akan lebih baik jika dilakukan oleh pihak luar.

Penilaian oleh pihak luar akan lebih objektif karena tidak berkepentingan untuk melindungi kekurangan-kekurangan yang terjadi, baik dari segi hasil yang dicapai maupun dari segi efisiensi pelaksanaan.

Telah disinggung di atas bahwa program pendidikan terdiri dari berbagai jenis dan tingkat. Menurut jenisnya, terdapat bermacam-macam program antara lain: program pemerintah, program lembaga masyarakat, program guru, program peserta didik, atau program orang tua.

Sedangkan dari segi tingkatannya, misalnya program pemerintah bertingkat mulai dari pusat sampai ke ruang kelas, dan begitu pula program lembaga masyarakat mulai dari tingkat yayasan sampai ke ruang kelas.

Ditinjau dari segi tingkatannya, penilaian program pendidikan di tingkat pusat sampai dengan di tingkat sekolah, lebih banyak berkaitan dengan mekanisme pengelolaan dan biasanya tidak berkenaan dengan kegiatan interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik.

Oleh karena itu, program seperti ini seringkali disebut penilaian program tingkat makro. Sedangkan penilaian terhadap program di tingkat kelas yang pendidiknya langsung berinteraksi dengan peserta didik, biasanya disebut penilaian tingkat mikro.

Ke dua jenis penilaian ini, walaupun mempunyai istilah yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi program. Contohnya, pelaksana di ruang kelas bertanggung jawab kepada penanggung jawab program di tingkat sekolah; peiminpin sekolah bertanggung jawab kepada yang lebih atas lagi ,dst. Selain itu, karena pelaksana di tingkat sekolah dan sekolah berinteraksi langsung dengan peserta didik dan orang tua mereka, maka pertanggungjawaban dalam berbagai manifestasinya biasanya juga diberikan kepada murid dan orang tua mereka.

Misalnya, dalam bentuk laporan kemajuan hasil belajar. Pada tingkat makro, keputusan yang diambil biasanya berkenaan dengan strategi dan pengelolaan pendidikan, sedangkan pada tingkat mikro adalah keputusan untuk tujuan penyempurnaan program mengajar.

Di dalam dunia pendidikan, Michael Scriven , juga mengemukakann 2 dua istilah penilaian, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap satuan-satuan program yang lebih kecil, yang dilakukan dalam rangka pengendalian program lebih besar yang masih berjalan, sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah keseluruhan program diselesaikan.

Penilaian formatif dan sumatif ini dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Misalnya tes formatif diberikan kepada siswa untuk mengetahui seberapa jauh siswa-siswanya memahami materi yang sudah diajarkan, sedangkan tes sumatif diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat keberhasilan setelah selesai seluruh materi yang akan diberikan.

Penilaian bagi program di tingkat makro sebaiknya dilakukan oleh pihak luar bukan pelaksana program itu sendiri tetapi masih merupakan lembaga pemerintah, sedangkan penilaian program pendidikan di tingkat mikro, sebaiknya dilakukan oleh guru itu sendiri. Kurang efisien jika harus dilakukan oleh pihak luar, selain itu, guru setiap hari berinteraksi dengan peserta didik tentulah perlu melakukan penilaian formatif secara periodik dalam waktu yang relatif singkat.

Tujuannya adalah untuk menyempurnakan proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru. Lagi pula ,guru di tingkat kelas pula yang tentunya paling menghayati persoalan yang dihadapi, terutama menyangkut murid per murid dan yang menyangkut penyesuaian metoda pengajaran terhadap bahan ajaran dan peserta didik.

Walaupun berbeda tingkatan, fokus utama penilaian di tingkat makro maupun mikro, hanya satu yaitu hasil belajar. Perbedaan antara keduanya hanya terjadi jika menyangkut masalah efisiensi pelaksanaan, karena pada tingkat makro lebih berkenaan dengan masalah strtategi dan pengelolaan sedangkan [ada tingkat mikro adalah menyangkut metoda pengajaran. Oleh sebab itu, salah satu masalah pokok di dalam penilaian pendidikan dalah pengukuran hasil belajar atau paling tidak pencapaian atau prestasi belajar.

Hasil dari pengukuran terhadap hal di atas merupakan landasan yang terpenting di dalam penilaian pendidikan. Hanya penilaian yang didasarkan pada hasil pengukuran yang dapat dipercaya sajalah yang dapat dijadikan landasan yang kuat bagi pengambilan keputusan tentang pendidikan di segala tingkatnya. Tes merupakan pengukuran terencana yang dipakai guru untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperlihatkan prestasi mereka dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Arikunto 53 bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Sedangkan menurut Gronlund 5 bahwa tes adalah sebuah alat atau prosedur sistematik bagi pengukuran sebuah sample perilaku. Menurut Ebel 16 bahwa test is a set of questions, each of which has a correct answer, that examinees usually answer orally or in writing. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat diperhatikan bahwa evaluasi sifatnya lebih luas dari pengukuran dan penilaian.

Pengukuran hanya terbatas pada deskripsi kuantitatif, sedangkan penilaian menunjuk pada aspek deskriptif kualitatif dan evaluasi mengacu pada keduanya. Evaluasi selain menyangkut pengukuran juga akan berlanjut dengan pemberian nilai atau pertimbangan. Fungsi Evaluasi dalam Proses Belajar Mengajar Secara umum, evaluasi sebagai sebuah proses atau tindakan mempunyai 3 tiga fungsi pokok yaitu 1 mengukur kemajuan, 2 menunjang penyusunan rencana, dan 3 memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.

Evaluasi memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, oleh karena itu, ada empat 4 fungsi evaluasi menurut Ratumanan dan Laurens 2 yaitu: 1. Sebagai alat seleksi Evaluasi dapat digunakan untuk seleksi penerimaan siswa baru. Dengan evaluasi dapat ditentukan sejumlah siswa yang memenuhi kriteria tertentu dari sejumlah siswa pendaftar.

Fungsi seleksi ini tidak hanya terbatas pada seleksi penerimaan siswa baru, tetapi juga dapat diterapkan pada kondisi lain. Misalnya, dalam penentuan siswa teladan, siswa penerima beasiswa, kenaikan kelas, kelulusan, dan sebagainya.

Sebagai alat pengukur keberhasilan Sebagai alat pengukur keberhasilan, evaluasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai, sekaligus mengukur ketuntasan belajar. Dari sisi fungsi ini, evaluasi juga akan memberikan informasi mengenai kelebihan dan kekurangan dari model, strategi, pendekatan, metode, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar KBM.

Sebagai alat penempatan Setiap siswa sebenarnya memiliki bakat tersendiri yang dibawanya sejak lahir. Pembelajaran akan lebih efektif jika disesuaikan dengan bakat setiap siswa. Tetapi karena berbagai keterbatasan, di Indonesia, pendidikan yang bersifat individual masih sulit dilaksanakan.

Sebagai jalan keluar dapat dilakukan pembelajaran kelompok dengan memperhatikan bakat dan kemampuan siswa yang relative sama. Dalam kondisi seperti ini, evaluasi dapat berfungsi sebagai alat penempatan. Sebagai alat diagnostik Dengan menganalisis hasil tes, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dan penyebab kesulitan tersebut. Informasi ini akan bermanfaat bagi guru dalam upaya memperbaiki kesulitan siswa tersebut.

Jadi dengan melakukan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kelemahan dan kelebihan setiap siswanya. Terkait dengan kegiatan belajar mengajar, evaluasi diharapkan dapat berfungsi sebagai berikut: 1.

Prinsip-prinsip Penilaian Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada prinsip-prinsip penilaian. Menurut Sudijono bahwa prinsip penilaian yaitu: 1. Prinsip keseluruhan Prinsip keseluruhan atau prinsip menyeluruh juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan prinsip komprehensif dimaksudkan di sini bahwa evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh atau menyeluruh.

Harus senantiasa diingat bahwa evaluasi hasil belajar tidak boleh dilakukan secara terpisah-pisah atau sepotong-sepotong, melainkan harus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh. Prinsip kesinambungan Prinsip kesinambungan juga dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip kontinuitas dimaksudkan di sini bahwa evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu.

Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara berkesinambungan itu juga dimaksudkan agar pihak evaluator guru, dosen, dll dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang perlu diambil untuk masa-masa selanjutnya, agar tujuan pengajaran dapat tercapai.

Prinsip obyektivitas Prinsip obyektivitas mengandung makna, bahwa evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subyektif. Sehubungan dengan itu, dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar, seorang evaluator harus senantiasa berpikir dan bertindak wajar, menurut keadaan yang senyatanya, tidak dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat subyektif.

DICTIONARY OF DEITIES AND DEMONS IN THE BIBLE DDD PDF

ANAS SUDIJONO PENGANTAR STATISTIK PENDIDIKAN PDF

Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Istilah yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa antara lain adalah: evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Evaluasi evaluation merupakan proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut Wandt and Brown bahwa evaluation refers to the act or process to determining the value of something. Evaluasi menunjuk pada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Pengukuran measurement dapat diart ikan sebagai proses penetapan angka bagi suatu gejala menurut aturan tertentu. Menurut Linn dan Gronlund , bahwa pengukuran adalah proses pemerolehan sebuah penggambaran dengan angka mengenai sejauh mana seorang individu memproses sebuah karakteristik tertentu.

JOHN BESH COOKBOOK PDF

Pengantar Statistik Pendidikan – Anas Sudijono

Zulukazahn Abstract This research moved from the unfolding phenomenon of corruption cases in Indonesia which is on evidence of unsuccesfull education world. Cara melukiskan distribusi frekuensi anws bentuk grafik polygon pligon frequency. Whereas in the second meeting, the first 2 JP for snakes and ladders and the following 1 JP is for evaluation. User Username Password Remember me.

Related Articles